Go to Top
  • No products in the cart.

Bagaimana Sistem Pemilu DPR Jerman?

Oleh: Pipit R. Kartawidjaja

Peneliti Senior Sindikasi Pemilu dan Demokrasi

Contoh sistem Jerman yang paling komplit adalah pemilu resmi tahun 1994. Sebab hasil pemilu 1994 bisa menjelaskan sistem pemilu Bundestag (DPR Jerman). Sistem kombinasinya (orang Jerman bilang sistem personalisierte Verhaeltniswahl alias sistem proporsional nan personal) mengalami perubahan dalam cara penghitungan suara.

Sebelum tahun 2009, cara penghitungan suaranya memakai metoda Hare/Hamilton Sisa Suara Terbanyak (persis di tanah Nuswantoro). Setelah diketemukannya paradoks „negatives Stimmgewicht“ (alias „nilai suara negatif“ atau „nilai suara termehek-mehek“ produk metoda kuota Hare/Hamilton Sisa Suara Terbanyak), setelah  tahun 2009 diganti oleh metoda divisor Sainte-Laguë/Schepers dengan divisor 1, 3, 5 dst.

Kenapa kok ada embel-embel Schepers, ahli fisika Jerman? Oleh karena divisor Sainte-Laguë itu tak lain adalah metoda kuota yang pendistribusian sisa suara dengan pembulatan ke atas (Method of Major Fractions). Pendistribusain pembulatan ke atas ini dapat menyisakan kursi. Dan jika hal ini terjadi, dilakukan penghitungan tahap kedua seperti yang Schepers perlihatkan (Tentang hal ini lihat catatan di belakang).

Lebih lanjut silakan unduh link dokumen di bawah ini.

2016.08.02 Sistem Pemilu Bundestag Jerman Final

2,079 total views, 2 views today

, , , ,

About Admin SPD

Sindikasi Pemilu dan Demokrasi -- Kanal ide, gagasan, dan pemikiran tentang pemilu, pemerintahan, dan demokrasi Indonesia

Leave a Reply