Go to Top
  • No products in the cart.

Proporsionalitas Kian Jauh

Proporsionalitas atau derajat keterwakilan yang lebih tinggi. Demikian salah satu misi undang-undang pemilu. Tapi, misi itu, bak kian jauh panggang dari api. Betapa tidak, dari pemilu ke pemilu, hasilnya semakin tidak proporsional. Secara sederhana, proporsionalitas hasil sebuah pemilu, diukur dengan membandingkan jumlah suara dengan kursi. Jika terjadi kesenjangan yang besar, itu merupakan pertanda adanya disproporsionalitas. Misalnya, bila persentase jumlah kursi yang diraih partai ternyata lebih besar dibanding suaranya.

Cara lain untuk mengukur derajat proporsionalitas, adalah dengan banyaknya pemilih yang terwakili alias suaranya terkonversi menjadi kursi. Bila banyak suara terbuang, tidak sah, ditambah partisipasi pemilih yang rendah, tentu derajat keterwakilan juga menjadi terpuruk. Sekadar contoh, pada Pemilu 2009 lalu, Partai Demokrat meraih suara 20,81 persen. Tapi, kursinya di DPR mencapai persen, alias surplus proporsional sebesar 5,62 persen. Partai Golkar yang meraih suara 14,45 persen, juga surplus 4,48 persen, karena kursinya di Senayan mencapai 18,93 persen.

Sila baca lebih lanjut dan unduh

1,395 total views, 1 views today

About Admin SPD

Sindikasi Pemilu dan Demokrasi -- Kanal ide, gagasan, dan pemikiran tentang pemilu, pemerintahan, dan demokrasi Indonesia

Leave a Reply