Go to Top
  • No products in the cart.

Golkar dan Cendana

Melas nian Ade Komarudin alias Akom. Bershio Ular Taurus, ular yang berbisa dan berbahaya, harus klepek-klepek baru pada putaran pertama Pemilihan Ketua Umum Partai Golkar. Padahal, Akom kelahiran Kemis Pahing 20 Mei 1965 adalah pasangannya Golkar permaujudan Selasa Kliwon, 20 Oktober 1964, bershio Naga Libra. Persejolian Akom dengan Golkar akan menjadikan Golkar kaya. Memang, perkawinan Selasanya Golkar dengan Kamisnya Akom mengundang Peletabilitas Pesugihan.

Sementara itu, pesaingannya, Setya Novanto alias Setnov, brojolan Setu Kliwon 12 November 1955. Bershio Kambing Scorpio, kambing beringas yang sangat berbahaya, adalah non-jodohnya Golkar. Pasalnya, pertengkaran permanen merupakan produk persejolian Selasanya Golkar sama Sabtunya Setnov. Lantas, Kambing Scorpionnya Setnov itu non-pasangan Naganya Golkar.

Lantaran Setnov itu ndobel bukan sejoliannya Golkar, maka Akom semestinya berangin baik. Tapi malang haram ditolak. Mujur tidak diraih. Akom malah berangin buruk gara-gara didukung sama Titiek Soeharto (brojolan Jemuwah Pon, 14 Oktober 1960, bershio Tikus Cancer, tikus pemimpi, cita-citanya suka gak masuk akal-akalan) dan Tommy Soeharto (maujudan Minggu Pahing 15 Juli 1962, Harimau Cancer, macan nan membara).

Sebab, Selasanya Golkar diasmarai oleh Jumatnya Titiek membuahkan perceraian dan Selasanya Golkar diselingkuhi oleh Minggunya Tommy itu memelaratkan. Karena itu, naga-naganya Golkar ogah difakirmiskinkan dan dijadikan kaum papa –masuk akal-akalan, jika Peletabilitas Pesugihan Papa Minta Saham merupakan penangkal marabahaya itu. Barangkali, itulah pasalnya, Tommy langsung lumpuh beroleh lumpur di tempat kering baru pada putaran pertama Pilket Golkar Munas Riau. Nasib Tommy sungguh sial bercampur malang, naga-naganya terlena alpa akibat lihainya Aburizal mengabui mata lewat peng-Ical-an (penghilangan) diri, buat bersesajen nasi dang-dangan beras senilai zakat fitrah, lauknya ayam barumbun dipindang, kuluban 9 macam

Namun, kasus Akom gagal jadi Ketum Golkar akibat dukungan Titiek dan Tommy itu konon jadi sas-sus di Beringin. Jika ingin tarung di Golkar jangan didukung Cendana. Bukti lain katanya, kegagalan nyapresnya Prabowo, Rebo Pon 17 Oktober 1951, Kelinci Libra, kelinci perayu, gara-gara didukung sama Titiek. Tikus dan kelinci itu non-sejolian, demikian bisikan gaib leluhurnya Ahok, walowpun Rabunya Prabowo akan tentrem jika gancetan sama Jumatnya Titiek. Lumrah, tentrem-tentreman itu jika bukan pasangan.

Sebenarnya, bukan karena Titiek, tapi Kelincinya Prabowo gak klop sama Ayam Leonya Republik Nuswantoro, maujud Jumat Legi 17 Agustus 1945. Sebagai kontrasnya: Jokowi, jebolan Rebo Pon 21 Juni 1961, bershio Kerbau Gemini, Kerbau berhati mulia. Rabunya Jokowi ketemu sama Jumatnya Republik Nuswantoro membuahkan ketentraman. Dan, Kerbaunya Jokowi itu jodohnya Ayamnya Republik Nuswantoro.

Maka sesungguhnya, bukan Cendana, tapi penentunya siapa kelak menjadi Ketum Golkar itu terletak pada suratan primbonan pasangan Ketum dan Golkar. Pada 1997, Golkar benar-benar berelektabiltas dan berpeletabilitas pesugihan kelas naga. Memborong 74,51 persen suara dalam pemilu legislatif. Tapi setelah itu? Diketuai Akbar Tanjung, brojolan Selasa Pon 14 Agustus 1945, bershio Ayam, Golkar tersantet jadi non-akbar dengan cuma 22,46 persen (1999), lalu tersihir jadi 21,58 persen (2004). Mistisannya: Selasanya Akbar Tanjung berasmara sama Selasanya Golkar adalah olo lan susah. Setelahnya, malah nggembos jadi 14,45 persen (2009) kala diketua Jusuf Kalla, kelahiran Jemuwah Legi 15 Mei 1942, bershio Kuda Taurus, kuda penarik kereta.

Maklum, Jumatnya Jusuf Kalla berselingkuh sama Selasanya Golkar penyebab perceraian. Dan seiring dengan membukitnya Porong, Golkar ikutan membukit (plus 0,30 persen) jadi 14,75 persen (2014) waktu diketuai Ical, maujudan Jemuwah Legi 15 November 1946, bershio Anjing Scorpio, anjing yang kurang pandai mengurus diri. Selasanya Golkar berpasangan sama Jumatnya Ical membuahkan perceraian.

Maka, naga-naganya, yang bisa menjadi ketum Golkar adalah insan-insan berhari kelahiran perangsang iklim disharmoni seperti olo lan susah, pertengkaran dan perceraian. jika berpasangan dengan hari maujudnya Golkar. Dari sisi salah satu pengukur pelembagaan sistem kepartaian, Volatilitas Golkar dari 1999 sampai 2014 itu tergolong rendah. Bisa jadi, keterbukaan terhadap disharmoni merupakan unsur demokrasi dan penguatan sistem kepartaian.

Adalah satu keajaiban tatkala Golkar berelektabilitas 74,51 persen di masa Orde Barusan (1997), padahal diketumi oleh Harmoko yang beraura buruk: brojolan Selasa Pon 7 Februari 1939, berwuku Langkir, dinaungi Bethara Kala, beraura panas, tidak bisa dijadikan tempat berlindung. Selasanya Harmoko berjodohan dengan Selasanya Golkar mempersembahkan olo lan susah. Apakah olo dan susahnya atau panasnya aura itu gaibannya yang bakal terjadi di kemudian harinya meski berelektabilitas 74,51 persen? Entahlah.

Jelas ditolak ngetumi Golkar adalah insan-insan yang berpotensi memelaratkan atau menjerumuskan Golkar menjadi kaum Papa dan anti Peletabilitas Pesugihan

 

Berlin, 28 Mei 2016

Pipit R Kartawidjaja

732 total views, 1 views today

About Admin SPD

Sindikasi Pemilu dan Demokrasi -- Kanal ide, gagasan, dan pemikiran tentang pemilu, pemerintahan, dan demokrasi Indonesia

Leave a Reply