Go to Top
  • No products in the cart.

Partai Kebangkitan Bangsa dan Terawangan Nomor Dua

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), lahir Kemis Wage, 23 Juli 1998. PKB bershio macan dan berbintang Leo. Macan Leo adalah biangnya macan nan pemberang dan pemberani. Bahkan, PKB sama sekali tidak pernah takut terhadap semua orangpersis Bethari Durga, pelindung wuku Bala.  Semasa balitanya, PKB terbilang mujur. Majalah supranatural Misteri anno 1999 membocorkan,  bahwa Gus Dur dikawal Laskar Jin Baghdad.

Namun, kehidupan di alam kasunyatan ini pengennya lain. Bukannya, “kebangkitan“ , tapi justru “kebangkrutan“. Tengok raupan kursinya. 52 pada 2004 dan jeblok jadi 28 saja pada 2009.  Padahal, kursi DPR-nya nambah dari 550 menjadi 560. Seolah ada kelainan jiwa. Dari biangnya macan, kok melorot jadi macan kertas.  Kerapnya, balsem cap macannya SBY kalau lagi masuk angin. Sungguh mengenaskan benar nasib partai bernuansa kebangkitkan itu. Lantas apanya yang keliru?

Pertama, bisa jadi, gembosnya perolehan kursi PKB berkaitan dengan namanya.  Menurut orang  Jawa, menyandang nama ‘‘kebangkitan‘‘ itu agaknya keberatan atau gak cocok.  Sebaiknya, nama yang low profile, ‘‘kejangkitan“.  Atau,  sesuai dengan para penggangasnya, ‘‘kelangitan“. Kedua, pendudukan Irak oleh iblis imperalias Amerika Serikat Maret 2003, mungkin telah memudarkan semangat laskar Jin Baghdad.

Ketiga, naga-naganya, PKB sangat bernafsu buat menggelembungkan diri. Berdasarkan wetonnya, PKB itu gak bisa berpikir panjang dan sering gelap pikiran. Setel Gatotkaca—dari bayi mendadak jadi dewasa—hendak ditiru. Peristiwa Jabang Tetuka ketukar beras Malaysia hilang dari ingatan. Akibat gelap pikiran itulah, vitamin pelangsingan daerah pemilihan ditenggak. Pelet pesugihan Parliamentary Threshold diembat pula. Gelagatnya, PKB gak kuat menerima itu semuanya. Diduga,  sebelumnya PKB gak chek-up.

Di samping ketiga alasan tadi, makhluk pelukan wuku Bala, katanya, malas mencari nafkah. Maunya tidur, terus bangkit, dan dompet ujug-ujug tebal. Tak ayal, Cak Imim pun tersandera oleh dugaan korupsi. Masih kata nujum, dalam hal pergaulan, PKB banyak dimusuhi. Akhirnya, PKB cuma jadi favoritnya kebun binatang atau sirkus.

Di luar itu, ada hal yang sangat merisaukan. Sebagai bani wuku Bala, PKB itu tidak baik untuk memperbaiki apapun. Maka bukan kebetulan, jika Cak Imin kelepasan, ‘‘Yang Loncat Dari PKB tak akan laku“.  Agar tak kaku, pilihan para “Yang“loncat-loncat –bagai to be or not to be ludrukan Hamletnya Shakespeares.

Betul, PKB itu didukung oleh para begawan langitan. Cuma, malapetaka muncul justru di bawah langit-langit. Umpamanya, pemberhentian ketua umum, macam pemecatan pelatih bal-balan di liga-liga Eropa—seolah PKB itu Partai Kesebelasan Balbalan.

Meskipun demikian, satu-satunya modal wuku Bala yang patut diandalkan adalah  pesona daya tarik terhadap lawan jenis. Karena itu, PKB lantas jadi lengah. Dikiranya, lawan jenis akan dengan sendirinya nyoblos PKB. PKB lupa dua hal. Pertama, SBY juga berwuku Bala dan menyanyipun alamaaaak, membuat jantung hati lawan jenis langsung glesotan. Kedua, buat memenangkan pemilu, PKB perlu juga punya pesona daya tarik terhadap kawan jenis. Nah, pelet Asmara Kembar Sejati, peletnya kaum hombreng itu, mestilah jadi pertimbangan masuk ke dalam program pemenangan.

Dalam kondisi yang sukar itu, waaaw .…. dapet nomor urut dua pula. Tabir asap kemenyan menyingkapkan, bahwa ini sosok sukanya berubah-ubah, demen berbohong, keterlaluan sensitif dan depresif. Dalam keadaan depresif gelap pikiran itu, bocoran Engkong Fengsui malahan ngegongin pula. Angka dua itu, bisikannya, disebut bintang penyakit alias angka yang membawa penyakit.  Amit-amit! Kalau begini, Polmarknya Eep Saefulloh Fatah dipastikan gak berdaya mengatrol PKB. Barangkali, yang dapat menolong itu ya slametan. Sesajennya, Nasi dang-dangan beras sepitrah, lauknya ayam hitam mulus dipanggang, sayuran tujuh macam.

Lho, khasiat sesajennya kok cumak kelas barangkali saja? Wuku Bala ini ada bengak-bengaknya.  Ingat kasus SBY, yang kalau gak salah ada diruwat Juni 2005 dan Januari 2006. Sehabis ruwatan, eee Yogya malah diguncang gempa, Porong kok diklaim sebagai ibukota Malaysia. Tidak mustahil kala itu, kutuk (anak ayam dalam bahasa Jawa) dihambalangkan jadi ayam hitam. Makanya,  dalam kasus PKB, semoga Bethari Durga datang menghadiri slametan dengan tidak ngangkang di punggung biangnya macan.

Bisa jadi, pencapresan Rhoma Irama akan menolong, meskipun perlu diperdebatkan, apakah “rho“ itu boleh disama-samakan dengan “ro“-nya notonegoro berdasar paranormalan Joyoboyo.  Tapi minimal, salah satu ciptaan sang maharaja dangdut  yang ngetop itu ya “Rujuk“ – tentu sambil loncat-loncat nginulan.

 

Pipit R Kartawidjaja

 

 

657 total views, 1 views today

About Admin SPD

Sindikasi Pemilu dan Demokrasi -- Kanal ide, gagasan, dan pemikiran tentang pemilu, pemerintahan, dan demokrasi Indonesia

Leave a Reply