Go to Top

Media Monitoring

Istilah media monitoring acapkali didengar. Penggunaan istilah ini lazimnya digunakan para penggiat komunikasi. Tidak ada istilah baku tentang definisi media monitoring. Secara sederhana media monitoring adalah kegiatan pemantauan atau pengawasan media massa, cetak, televisi, radio, maupun daring (online). Pemantauan ini setidaknya memenuhi unsur 5W+1H (what, when, who, why where, and how).

Dalam sejumlah artikel dijelaskan, media monitoring adalah sebuah rangkaian dari proses membaca, melihat, mencatat, dan mendengar isi dari sebuah artikel, berita atau naskah berita, dan iklan media massa. Proses ini dilakukan terus menerus. Kemudian melakukan indentifikasi, analisa, serta menyimpannya menjadi sejumlah topik, tema, ataupun kata kunci yang telah ditentukan (keyword).

Tujuan dilakukan media monitoring untuk mendeteksi dan mengantisipasi secara dini isi dari sebuah artikel, berita atau naskah berita, dan iklan media massa. Dimana isinya berkaitan dengan sebuah peristiwa, menyangkut siapa, mengapa bisa terjadi, sumberdaya publik yang berkaitan, kebijakan, dan dampak apa yang terjadi atau harus diantisipasi serta hal-hal lainnya.

Bentuk media monitoring ada tiga macam. Media clipping, media tracking, dan media content analyis. Media clipping adalah dokumentasi berupa artikel, naskah berita, dan iklan media massa. Bentuknya dapat berupa teks dan video. Media tracking adalah untuk melacak jejak opini publik atas suatu kejadian (events) tertentu atau isu-isu tertentu pada media massa. Media content analysis atau analisis isi adalah suatu metode untuk menganalisis isi sebuah teks. Pendekatan metode ini adalah kuantitatif: teks ditafsirkan dalam unit analisis yang bisa dihitung. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman struktur makna sebuah teks secara konsisten. Metode ini banyak diterapkan untuk analisis teks dalam media.

Kegiatan media monitoring sudah dimulai sejak pertengahan tahun 1800-an. Pada masa itu media monitoring hanya sebatas melakukan kliping terhadap artikel, berita, atau naskah berita. Di Eropa, kegiatan tersebut lebih dikenal dengan istilah memotong artikel, berita atau naskah berita (press cutting) bukan kliping.

Dalam pengerjaanya, media monitoring melibatkan sejumlah pekerja seperti pembaca. Mereka ditugasi untuk melakukan pengamatan/pemindaian terhadap artikel, berita, atau naskah berita yang diterbitkan media massa. Kemudian, ia mencari sejumlah kata kunci yang berkaitan dengan sejumlah klien yang menggunakan jasa mereka.

Para pembaca itu menandai/mengelompokan kata-kata kunci yang ia dapati. Dengan menggunakan alat seperti cutter. Mereka memotong artikel, berita, atau naskah berita tersebut. Potongan artikel itu disimpan dan disatukan dalam sebuah map serta dikirimkan melalui kantor pos kepada klien. Pada masa itu, kegiatan atau layanan jasa media monitoring dibatasi oleh kondisi geografis dan bahasa.

Menurut sejumlah kajian yang dilakukan GE, Kodak atau penyedia layanan jasa media monitoring disekitar 1980-an, banyak petugas pembaca–seperti telah dijelaskan di atas, atau saat ini dikenal dengan istilah koder atau surveyor, kehilangan 30 hingga 40 persen kata-kata kunci yang diperlukan seorang klien. Hal itu terjadi lantaran pembaca terburu-buru melakukan pengamatan/pemindaian artikel, berita, atau naskah berita untuk mencari kata-kata kunci yang sudah ditentukan. [disarikan dari sejumlah artikel]

Saat ini, media monitoring kerap diterjemahkan sebagai sebuah layanan pemantauan media. Klien akan diberikan dokumentasi, analisis, atau salinan dari konten media yang menarik. Layanan cenderung mengkhususkan diri dengan jenis media, ukuran, geografi, publikasi, wartawan, edisi atau jenis konten.

Saat ini, banyak perusahaan, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau lembaga nirlaba seperti rumah sakit, kampus, asosiasi, individu-individu, seperti artis, tokoh publik, menggunakan media monitoring sebagai suatu alat untuk mendeteksi sebuah artikel, berita atau naskah berita, dan iklan media massa yang isinya menyebut nama mereka atau organisasi mereka.

Ada juga beberapa organisasi menggunakan media monitoring untuk mengetahui informasi apa saja yang telah dipublikasikan media tentang mereka, ada juga untuk mengumpulkan informasi apa saja yang berkaitan pesaing mereka, ada juga untuk mengintip isu apa saja yang digunakan para pesaing mereka, untuk mengatur citra, untuk bisnis yang berkaitan dengan intelijen, untuk mengenali apa saja kelemahan dan kekuatan dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi, atau untuk mengidentifikasi peluang bisnis baru, dan lainnya.

Memasuki abad ke-21, media monitoring mengalami perkembangan dan perubahan. Itu dilatarbelakangi kemunculan media baru (new media). Kehadiran Facebook, Twitter, Path, Instragram, dan lainnya, memaksa para penggiat komunikasi untuk ikut memantau media jenis baru ini. Media jenis baru ini dinamakan media sosial (social media).

Lahirnya media jenis baru ini secara otomatis merubah paradigma dan tren komunikasi. Ada sebagian kalangan penggiat komunikasi memberikan istilah untuk media monitoring yang memantau media sosial dengan sebutan media monitoring non convensional. Sedangkan media monitoring yang memantai media cetak, radio, televisi, dan daring (online) disebut media monitoring convensional.

1,004 total views, 2 views today